Ayah Ibu, Maafkan Aku yang Belum Bisa Mengukir Bahagia di Hari Tuamu

Ayah, Ibu. Maafkan anakmu ini yang belum bisa mengukir bahagia di hari tuamu.

Aku sadar engkau telah banyak berkorban untukku, sejak aku kecil engkau merawatku dengan penuh kasih sayang, hingga aku tumbuh seperti sekarang ini.

Engkau telah banyak berkorban bagiku. Korban tenaga, korban materi, korban waktu, bahkan dirimupun engkau korbankan untukku. Engkau tidak kenal lelah, teriknya matahari, dinginnya hujan engkau terobos demi menghidupi aku anakmu.

Namun terkadang, aku sebagai anak tidak pernah memperhitungkan segala perjuanganmu. Aku kadang lalai. Ketika aku jengkel, aku membentakmu. Ketika keinginanku tidak terpenuhi, aku marah padamu. Ah sungguh aku anak yang tidak berguna.

Bahkan sampai masa tuamu, kulitmu mulai keriput, rambutmu mulai beruban, aku belum bisa mengukir senyum bahagia di pipimu.

Ayah, ibu maafkan aku. Aku sekarang sadar dan patah hati. Ketika aku tumbuh besar engkau semakin menua, itulah patah hati terberatku. Namun akan lebih menyakitkan lagi jika nanti engkau tidak bisa melihat dan merasakan kesuksesanku.

Ayah, ibu doakan anakmu ini. Memang tidak bisa ku balas segala yang telah engkau lakukan padaku. Namun aku akan sekuat tenaga membuatmu bahagia, mengukir senyum di wajahmu di masa tuamu. Karena bahagiamu, surga bagi kami anak-anakmu.

Dari anakmu yang terlambat sadar.