Pseudo-Agamawan dan Pemodal, Sulit Terima Kekalahan dalam Politik

Muslimedianews.com ~ PSEUDO-AGAMAWAN DAN PEMODAL, PIHAK YANG SULIT MENERIMA KEKALAHAN

Kocap kacarito,  dalam pilkades, pihak yang paling sulit move on dan malah "ngipas-ngipasi" calon yg kalah, ranking tertinggi adalah pseudo-agamawan dan pemodal, kenapa? 

1. Pseudo-agamawan dalam kampanye biasanya akan memojokkan lawannya pakai diksi-diksi agama, mulai munafiq, dzolilm,  jahaannam, plus teriakan lafal suci yang Maha Tinggi. Gampangnya dia telah melakukan sakralisasi politik.  Mereka merasa bahwa pilkades ini adalah perjuangan antara haq dan batil,  malaikat melawan iblis.  Maka saat calonnya kalah,  pasti malunya setengah mati. Karena malu yg demikian,  si pseudo-agamawan akan memproduksi dalil lagi untuk menyalahkan lawannya,  bahkan sampai pada tahap provokasi ke akar rumput atas nama jihad. Tipe pseudo-agamawan seperti ini jalan yang paling mudah agar diam adalah meniru negara Arab, kenapa? Ya karena sulit menyadari kekalahan dan terus teriak di depan umum dg melakukan sakralisasi politik. 

2. Ranking kedua adalah pemodal. Mereka ini awalnya juga sulit,  tapi lebih mudah menerima kekalahan dibanding pseudo-agamawan. Karena pemodal sudah biasa melihat kenyaatan dan bermain spekulasi.  Apalagi kalau diajak deal bisnis membangun desa yg baru hajatan pilkades,  kelar sudah urusan. 

3. Adapun calon kepala desa yang tidak jadi, dan rakyat akar rumput pada umumnya lebih mudah lagi untuk move on,  asal tidak diprovokasi. Apalagi rakyat kecil sudah lupa dg coblosan,  mereka sudah beralih mencoblos  irigasi sawah yang macet,  atau berdagang di pasar lagi dll. 

4. Pertanyaannya,  bagaimana dengan pilpresmu?
**

Tulisan di atas anggap saja hiburan, jangan teriak teriak lho.  Kalau analisis dianggap salah,  ya bilang salah, gitu saja

Dr. Ainur Rofiq Al-Amin