Literasi Muslim Digital: Dosa Jariah Digital


Oleh: A. Khoirul Anam
Biasanya kita mengenal istilah “jariyah” ini berkaitan dengan amal perbuatan yang pahalanya tidak akan pernah terputus, bahkan sampai seseorang Muslim meninggal dunia. Pahalanya terus mengalir. Ada tiga perkara yakni sedekah jariyah atau wakaf, ilmu pengetahuan yang terus bermanfaat dan anak-anak shalih yang terus mendoakan.
Namun kali ini berurusan dengan dosa. Dosa digital. Yaitu amal perbuatan di dunia maya yang selalu mengalirkan dosa, bahkan setelah domain atau akun yang kita pakai untuk menyebar dosa itu sudah tidak aktif.
Sekarang kita sudah sering diperingatkan dengan “jejak digital”, atau rekam jejak kita di dunia maya. Memori dunia maya akan menampung perilaku kita selama menggunakan internet atau media sosial: Kita pernah kemana, dengan siapa, melakukan apa, bicara apa, mendukung atau memuji siapa atau sebaliknya mencaci-maki siapa, dan seterusnya. Semuanya terekam dengan baik. Jejak digital saat ini menjadi bahan pertimbangan dalam rekrutmen karyawan, partener bisnis, atau mungkin jodoh.
Namun kali ini berurusan dengan dosa, yakni postingan-postingan yang diarang oleh agama. Misalnya: fitnah, kebohongan, adu domba, celaan, hujatan, atau istilah yang sangat populer di dunia digital: hoax.
Meskipun suatu saat kita menghapus konten yang telah diupload, tapi fasilitas pencarian di internet sangat canggih untuk memunculkan kembali postingan kita, bahkan yang diupload dengan fasilitas messeging system yang mestinya bersifat privat. Semuanya bisa dimunculkan lagi. Apalagi jika postingan kita sudah disreenshot atau dicapture secara manual, atau telah didaur-ulang dan disebarkan oleh banyak orang dan entah kemana saja.
Seperti sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir, kira-kira dosa jariyah juga demikian adanya. Bayangkan ketika kita membuat satu kebohongan, kemudian kebohongan itu tersebar ke banyak penjuru dan berulang-ulang dari tahun ke tahun entah sampai kapan! Bayangkan ketika kita memproduksi atau menyebar hoax, lalu hoax itu dishare dan direproduksi dan dishare lagi sampai seakan-akan menjadi sebuah kebenaran, maka maka kita telah menipu sekian banyak orang.
Dalam terminologi taubat, jika kesalahan yang kita lakukan berkaitan dengan orang lain, maka selain menghentikan perbuatan salah dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan, lalu meminta ampun kepada Allah, ada syarat satu lagi, yaitu meminta maaf atau menyelesaikan urusan dengan orang-orang yang berkaitan dengan kesalahan kita. Namun, bayangkan, ketika satu hoax kita sebar kemudian hoax itu disebar ke banyak orang, bagaimana kita bisa menghentikan persebaran hoax itu, juga bagaimana cara kita meminta maaf kepada pihak-pihak yang sakit hati di banyak tempat entah dimana karena hoax yang kita produksi atau kita sebar. Kalau urusan dosa dengan manusia ini belum kelar, bagaimana kita bisa meminta ampun kepada Allah? Bagaimana kita bertaubat? Rumit bukan?
Tentu saja Malaikat Atid, atau sang pencatat amal buruk manusia, punya mekanisme pencatatan dosa di era digital seperti sekarang ini. Maka sebaiknya kita pikir-pikir dulu sebelum menyebar dosa dengan jari-jari kita. Puasa di era digital ini adalah menahan diri kita, jari-jari kita untuk tidak berbuat dosa digital itu.

Tidak ada komentar untuk "Literasi Muslim Digital: Dosa Jariah Digital"